Highlight

PUASA DAN PENYEMBUHAN LUKA BATIN

 Oleh: Nur Chasanah S. Psi., MM., M. Psi., Psikolog

Bulan yang ditunggu-tunggu telah tiba, setahun sekali umat muslim senantiasa mengharapkan kehadirannya. Bulan itu adalah bulan puasa waktu terbaik untuk healing dengan mendekatkan diri pada Sang Pencipta. Puasa dikutip dari buku Fiqih Puasa oleh Gus Arifin, puasa di dalam bahasa Arab disebut dengan Ash-Shiyaam (الصيام) atau Ash-Shaum (الصوم). Secara bahasa, Ash-Shiyam memiliki arti menahan diri. Secara istilah, puasa adalah menahan diri dari makan, minum, hubungan suami istri, dan segala sesuatu yang dapat membatalkan puasa. Mulai dari terbit fajar hingga terbenam matahari, dengan niat karena Allah SWT.

Puasa adalah ibadah yang wajib bagi orang-orang yang beriman yang di dalamnya dijanjikan kualitas rohani, mutu menjulang suatu batin yaitu ketaqwaan (Q.S 2:183).

Kewajian melaksanakan  Puasa Ramadan wajib bagi umat Islam sesuai dengan firman Allah:

ÙŠٰٓاَÙŠُّÙ‡َا الَّØ°ِÙŠْÙ†َ اٰÙ…َÙ†ُÙˆْا Ùƒُتِبَ عَÙ„َÙŠْÙƒُÙ…ُ الصِّÙŠَامُ ÙƒَÙ…َا Ùƒُتِبَ عَÙ„َÙ‰ الَّØ°ِÙŠْÙ†َ Ù…ِÙ†ْ Ù‚َبْÙ„ِÙƒُÙ…ْ Ù„َعَÙ„َّÙƒُÙ…ْ تَتَّÙ‚ُÙˆْÙ†َۙ ۝١٨٣


Artinya: "Hai orang-orang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa." (QS. Al-Baqarah: 183).

Puasa yang dikerjakan sesungguhnya adalah treatment pengobatan luka batin, kondisi batin akan mempengaruhi bahagia/tidaknya kehidupan manusia. Sakit atau sehatnya batin menunjukkan bagaimana seseorang berperilaku, bereaksi, dan berinteraksi dalam kehidupan. Sehingga ibadah shaum atau puasa harus mampu membuat pelaksananya berada pada keadaan psikologi yang seimbang, matang tanpa konflik pertentangan. Sebab arti puasa adalah menahan diri sehingga sangat ironi jika seseorang yang menjalankan puasa namun masih berperilaku tercela.

Bahkan disalah satu hadis Rasulullah bersabda, "Bagaimana mungkin kamu berpuasa padahal kamu mencaci maki pembantumu. Sesungguhnya puasa adalah penghalang bagi kamu untuk tidak berbuat hal yang tercela. Betapa sedikitnya orang yang shaum dan betapa banyaknya orang yang kelaparan." Maka dari sini jelas sekali jika puasa dilakukan dengan sesungguhnya maka akan dapat menahan seseorang untuk berperilaku negatif, dengan demikian seseorang yang mampu melakukan puasa dengan sesungguhnya otomatis akan mampu menjadi treatment bagi penyembuhan luka batinnya. Dalam puasa mensiratkan kita aspek moral untuk menempatkan sikap seperti sabar, pemaaf, tidak melakukan kekerasan fisik maupun verbal, menjadi buah yakni sisi dalam (batin) menjadi sehat. Kesehatan batin dan rohani tergarap melalui puasa.

Perlu diketahui bahwa batin yang sakit adalah batin yang selalu dipebuhi dengan banyak keinginan namun tidak dipersiapkan dengan penerimaan akan kegagalan atau keinginan yang didapati tidak sesuai keinginan hati. Permasalahan hidup, kekecewaan inilah yang menjadi sumber munculnya luka dihati manusia dan puasa inilah moment terbaik untuk kita bisa mendekatkan diri kepadaNYA, bersimpuh atas jiwa yang rapuh mengharap perlindungan dan pertolonganNYA agar senantiasa memiliki jiwa yang kokoh.

Moment puasa yang biasa digunakan untuk penyembuhan (treatment) luka batin adalah sebagai berikut:

1.      Treatment pertama adalah puasa itu sendiri. Dengan berpuasa, seseorang dilatih untuk menahan lapar dan dahaga, menahan nafsu amarah, dan menahan berbuat maksiat (perbuatan yang dilarang Allah). Waktu sebulan kiranya bisa membentuk kebiasan seserang selama dilaksankan dengan penuh komitmen. Harapannya dengan kondisi tersebut seseorang setelah terbiasa untuk menahan diri dan bersabar maka kesabaran ini dengan sendirinya akan terbentuk.

2.     Terapi kedua adalah qiyamul lail. Karena ada aktivitas sahur selama puasa maka kesempatan untuk melakukan qiyamul lail sangat besar. Jika qiyamul lail ini dilakukan secara konsisten maka akan  dapat menumbuhkan sikap ikhlas dan pasrah. Seseorang yang mempunyai sikap ikhlas dan pasrah akan selalu tenang dalam menghadapi masalah. Dengan demikian, sedalam apa pun luka batin yang diderita bisa sembuh dengan segera.

3.        Terapi ketiga adalah salat tarawih. Selama bulan Ramadhan intensites seseorang bertemu dengan banyak orang melalui sholat tarawih ini sangat besar. Momen inilah yang bisa menghindarkan seseorang dari rasa kesepian, kehampaan dan bisa menjadikan seseorang lebih mudah survive serta move on dari luka batinnya. Apalagi jika setelah berjamaah diakhiri aktivitas bersalam-salaman, yang berarti ada itikad saling memaafkan dan saling mengikhlaskan, luka batin pun segera menutup.

4.       Terapi keempat adalah bersedekah. Allah telah berjanji akan melipatgandakan pahala dari amal ibadah yang dilakukan pada bulan Ramadan. Hal ini menjadi daya tarik yang sangat efektif untuk meningkatkan aktivitas yang ba termasuk didalamnya bersedekah atau  berbagi. Pada hakikatnya, bersedekah itu melatih batin seseorang untuk bersikap ikhlas. Ketika bersedekah, seseorang akan rela melepas sesuatu yang disukainya. Seperti harta, makanan, baju, dan benda-benda yang lain. Hal itu berarti, semakin sering bersedekah, semakin terpupuk pula sikap ikhlas seseorang. Jika ikhlas sudah terpola dalam batin seseorang maka luka batin tidak mungkin akan menyapa.

           Mari kita tingkatkan amal ibadah kita di bulan puasa ini, kita konsistenkan dan niatkan sepenuh hati untuk berkomitmen penuh agar akhirnya menjadi sebuah habituasi yang mampu menghindarkan diri dari luka batin dan mampu meraih kebahagiaan hidup didunia dan akhirat kelak.

           Jika Anda merasa ada yang kurang dalam diri Anda atau merasa sedang difase burnout maka  silahkan hubungi layanan kesehatan kami. LAYANAN KESEHATAN MENTAL (Lakon Kental) baik secara online maupun offline. Secara Online bisa melalui TANYA LITA  (089652764893) yang kemudian akan disambungkan pada konselor BKPSDM Kabupaten Demak.